CE (Continuing Education) “Basic Abdominal Ultrasonografi”

Posted on May 23, 2015 by admin in Seminar

Semakin banyaknya klinik atau tempat praktek yang mulai beroperasi di Indonesia semakin besar pula tuntuan keprofesionalan seorang dokter hewan dalam mendiagnosa suatu penyakit atau dalam kata lain dituntuk untuk selalu meningkatkan kemampuan diagnosa. Dalam hal diagnostik sendiri seorang dokter hewan atau praktisi saat ini tak lepas dari suatu alat bantu pemeriksaan untuk mendukung dokter meneguhkan diagnosa salah satu contohnya adalah ultrasonografi (USG).

Teknologi sonografi sendiri saat ini telah berkembang pesat dan digunakan secara rutin di dunia medis sebagai sarana diagnosis berbagai penyakit dalam. Rumah sakit hewan maupun klinik hewan di kota-kota besar saat ini telah melengkapi sarana atau prasarana diagnostiknya dengan mesin ultrasonografi 2 dimensi, sementara laboratorium –laboratorium besar dan rumah sakit umum saat ini telah mulai menggunakan sonografi 4 dimensi. Diagnostik ultrasonografi sangat berbeda dengan diagnostik radiografi karena sifat gelombang suara yang dipergunakan untuk memvisualisasikan organ sangat berbeda dengan sifat gelombang cahaya yang dipergunakan pada mesin radiografi. Keahlian penguasaan diagnostik menggunakan mesin ultrasonografi membutuhkan waktu lama dan dokter harus melakukan praktek diagnostik ini secara berulang-ulang untuk mampu melihat, memahami dan menterjemahkan gambar yang ada pada monitor.

Organ intra abdominal merupakan salah satu keahlian yang harus dimiliki seorang sonografer karena gangguan penyakit dalam dapat diketahui melalui pengamatan menggunakan mesin ultrasonografi. Berbagai penyakit hati, empedu, limpa, ginjal, ureter, vesica urinaria, kelenjar adrenal, urethra dan prostat dapat diamati dengan baik menggunakan mesin USG. Dalam hal pelaksanan pemeriksaan USG tidak banyak dokter yang mau menekuni bidang sonografi ini karena tampilan hitam putih yang tampak pada layar sering kali membingungkan. Banyak artefak yang muncul tervisualisasi, yang mengaburkan gambar yang diikehendaki dan para dokter tersebut kurang sabar melacak pencitraan yang tertera pada monitor sehingga perlu diadakan pelatihan continung education untuk mempelajari dan meningkatkan keterampilan praktisi dokter hewan dalam penggunaan ultrasonografi guna mendukung peneguhan diagnosa

Pada beberapa waktlalu pada tanggal 22 dan 23 Mei 2015 Rumah Sakit Hewan Prof Soeparwi FKH UGM menyelenggarakan Pelatihan atau CE (Continuing Education) dengan judul materi “Basic Abdominal Ultrasonografi” Anjing dan Kucing yang bertempat di ruang seminar RSH Prof. Soeparwi. Pelatihan ini diperuntukan bagi Dokter Hewan Dinas Peternakan atau Pertanian, Dokter Hewan praktek, mahasiswa koassistensi Fakultas Kedokteran Hewan dan mahasiswa S-2 Fakultas Kedokteran Hewan dengan harapan dapat bermanfaat bagi peserta dalam upaya mendalami teknik diagnostik dasar organ rongga abdomen menggunakan ultrasonografi. Tim pengajar dan pemateri dalam CE kali ini adalah dokter-dokter hewan Rumash sakit Hewan Prof. Soeparwi unit Bedah dan Radiologi yaitu: Dr.drh. Dhirgo Adji, M.P., drh. Agus Budi Santosa, drh. Setyo Budi, M.P.

ce 3

ce 2

Hari pertama pelaksanaan CE, peserta diberikan materi-materi dasar ultranonografi umum oleh Dr.drh. Dhirgo Adji, M.P, pengenalan alat ultrasonografi dari Land Wind Medical Ultrasound, anastesi untuk diagnostik ultasonografi oleh drh. Agus Budi Santosa, anatomi komparativa organ abdomen anjing dan kucing secara ultrasonografis dan radiografis sebagai perbandingan oleh drh. Setyo Budi, M.P dan penutup hari pertama yaitu diagnostik ultrasonografi organ dalam oleh Dr.drh. Dhirgo Adji, M.P. Kemudian pada hari kedua acara dilanjutkan dengan praktek diagnostik langsung mengoperasikan mesin USG, peserta dibagi 4 kelompok dengan masing-masing kelompok berjumlah 6 orang. Praktek diagnostik ini menggunakan probandus anjing dan kucing di pandu oleh dokter-dokter unit bedah dan di dampingi dokter praktek RSH Prof Soeparwi UGM. Terlihat antusias para peserta ketika dijelaskan mengenai dasar-dasar apa saja yang perlu diterapkan ketika mengunakan USG untuk mencari lokasi dan melakukan pengukuran organ daerah abdominal, membedakan kortex dan medula, mencoba mengatur focus dan gain USG. Pada saat praktek langsung juga dilakukan diskusi sambil mempraktekkan penggunaan USG langsung ke probandus.

admin

Post Author

This author has not entered his bio yet but feel free to check out other articles by him anyhow.

Other posts by